Si Silinder yang Membingungkan ” tugas penkom”

2011
03.18

Minggu lalu, tepat pukul 10.00 WIB, saya mendapatkan tugas yang saya membuat saya bingung,, saya disuruh mencari nama dan fungsi suatu alat yang berbentuk silender yang ada di sekitar kita tapi ga pernah kita hiraukan. Saya baru sadar bahwa silinder tersebut ternyata mempunyai nama dan kegunaan juga.

Setelah berpusing-pusing ria nanya sana sini, ngegoogling dengan keyword yang ga jelas, akhirnya saya tau bahwa si silinder tersebut bernama Ferrite Bead.

Ferrite bead atau yang juga dikenal dengan ferrite chokes merupakan sebuah alat berbentuk silinder yang terdapat pada berbagai alat, seperti monitor, mouse, dan juga adaptor. Ferrite Bead merupakan suatu subtansi semi magnetik yang terbuat dari oksida besi (karat) yang dipadu dengan logam lainnya. Ferrite Bead dibungkus menggunakan bahan semacam plastik yang jika dibuka terdapat logam hitam di dalamnya.

Setiap alat elektronik selalu menghasilkan kebisingan yang berbeda-beda. Kebisingan pada taraf yang tinggi dapat menghambat kerja alat tersebut. Selain kebisingan ada juga gangguan atau interfensi dari gelombang elektromagnetikdan dari gelombang radio. Untuk mencegah itu semua,maka di pasanglah ferrite bead pada ujung kabel. Ferrite Bead berfungsi untuk mengurangi kebisingan dalam alat elektronik, mengurangi EMI (gangguan elektromagnetik) dan RFI ( gangguan gelombang radio).

Ferrite Beadsumber >> http://industrialcomponent.com/usbstuff/3dalugkit.html

Selain tentang si silinder itu, saya juga harus mengidentifikasi perangkat yang ada di dalam laptop,notebook, atau apapun deh macam komputer yang kita gunakan. Berikut spesifikasi laptop saya.

* System

Computer Name                 : ASUS-PC

Operating System              : Windows 7 Home Premium 32-Bit (6.1 Build 7600)

Language                               : English

System Manufacturer      : ASUSTeK Computer Inc.

System Model                     : K42F

BIOS                                        : BIOS Date : 06/15/09 18:05:00 Ver: 08.00.10

Processor                             : Intel (R) Core (TM) i3 CPU M350 @2,276 GHz (4CPUs) ~ 2,36 GHz

Memory                                : 2048 MB RAM

Page File                                : 1204 MB used, 2598 MB available

DirectX Version                 : Direct 11

* Display

Name                                     : Intel (R) HD Graphics

Manufactures                     : Intel Corporation

Chip Type                             : Inter (R) HD Graphics (core i3)

DAC Type                             : Internal

Approx Total Memory   : 758 MB

Current Display Mode    : 1366 x 768 (32 bit) (60 Hz)

Monitor                                : Generic PnP Monitor

* Sounds

Name                                    : Speaker (3-High Definition Audio Device)

Hardware ID                      : HDAUDIO/FUNC_01&VEN_10EC&DEV_02694 SUBS’

Manufacturer ID              : 1

Product ID                         : 65535

Type                                     : WDM

Sumber :

http://computer.howstuffworks.com/question352.htm

http://www.tested.com/news/ferrite-beads-on-av-cables-how-do-they-work/1556/

http://industrialcomponent.com/usbstuff/3dalugkit.html

kata sang ayah

2011
02.25

it is...

yang ada aja ni...

Seorang anak berjalan mendekati Ayahnya yang sedang membaca. Anak tersebut duduk sambil memeluk ayahnya yang tetap membaca. Sang anak hampir terlelap didekapan ayahnya. Suara ayahnya yang membaca buku seperti lagu nina bobo yang terindah yang pernah ia dengar. tiba-tiba sang ayah menutup buku dan mengelus dahi anaknya seraya berkata,

” Nak, apa kau tidak malu punya ayah seperti ini?”
Sang anak membuka matanya kebingungan. Sang anak menatap bingung ayahnya, mencari kepastian dari pertanyaan sang ayah. Lama terhenyak, Sang anak pun menjawab, ” Aku tidak pernah malu mempunyai ayah sepertiayah. karena ayah adalah orang yang aku banggakan. Ayah yang selalu bekerja keras untuk aku dan ibu. ayah yang selalu pulang malam hanya untuk memenuhi semua yang kuinginkan.”
Si ayah hanya tersenyum mendengar jawaban dari si anak. Si anak pun kembali menutup mata dan tidur didekapan sang ayah. sang ayah kembali membuka dan membaca bukunya sa,bil sesekali mengelus dahi anak perempuan kecilnya itu.
Waktu terus bergulir, si anak pun beranjak dewasa.
Si ayah kini hanya dapat terbaring lemah ditempat tidurnya yang kokoh. si anak yang baru saja pulang ke rumah langsung  menghampiri ayahnya, dan tidur di samping ayah sambil mendekap sang ayah. Sang ayah terbangun merasakan kehadiran si putri kecilnya yang kini hidup jauh darinya. Sang ayah melepaskan kerinduannya dengan mencium lembut kening putrinya. dan bertanya lagi,

KROMATOGRAFI: KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT) DAN KROMATOGRAFI KERTAS

2010
06.19

Kromatografi adalah sebuah metode yang campuran komponen-komponennya dipisahkan pada sebuah kolom adsorban dalam sistem alir. Definisi kromatografi menurut IUPAC adalah sebuah metode pemisahan yang komponen-komponennya dipisahkan dan didistribusikan di antara dua fase yang salah satu fasenya tetap (diam) dan yang lainnya bergerak dengan arah yang dapat diketahui.  Kromatografi memiliki berbagai macam tipe atau jenis teknik kromatografi. Jenis teknik kroamtografi, yaitu kromatografi kertas, kromatografi lapis tipis, kromatografi kolom, IEC (ion exchange chromatography), gel permeation chromatography (size exclusion), affinity chromatography, kromatografi gas, supercritical fluid chromatography, dan high performance liquid chromatography (Braithwaite & Smith 1999). Kromatografi memiliki istilah fase diam dan fase gerak. Fase diam dapat beupa fase cair atau padat. Fase gerak biasanya berupa cair atau gas (Bansal 2003).  Fase diam, yaitu sebuah film di atas permukaan partikel kecil atau dinding kapiler kolom sehingga menghadirkan area permukaan yang luas pada fase gerak. Sebuah campuran sampel ditambahkan pada fase gerak menjalani tahapan partisi atau interaksi adsorpsi pada batas fase diam dan fase gerak ketika sampel bergerak pada sistem kromatografi. Perbedaan sifat fisika dan kimia masing-masing komponen mengenali hubungan afinitas mereka untuk fase diam dan fase gerak sehingga komponen-komponen akan pindah (bergerak) pada tingkat perbedaan tergantung pada hasil perlambatan mereka dari atraksi pada fase diam. Komponen yang terlambat bergerak paling lambat dan dilarutkan terakhir (Braithwaite & Smith 1999).

Kromatografi lapis tipis (KLT) merupakan sebuah bentuk dari kromatografi adsorpsi padat cair yang fase diamnya dilumuri di atas plat. Ada perbedaan cara dalam melapisi plat, yaitu menuangkan, mencelupkan, menyemprotkan, dan melapisi. Plat yang digunakan dapat berupa plat kaca dan aluminium. Adsorban padat yang sering digunakan, yaitu silikia dan alumina. Bahan tersebut dicampur dengan bahan pengikat agar tdak terkelupas pada plat yang kering. Sampel ditambahkan sebagai larutan di dalam pelarut yang non polar di ujung plat dengan membentuk spot yang simetri. Proses pengulangan penambahan bertujuan mendapatkan beberapa miligram sampel. Pengamatan pada plat yang menggunakan silikia (mengandung larutan fluoresens) dengan menggunakan sinar UV memperlihatkan lokasi spot-spot yang berpendar. Ketika fase gerak diiletakkan di atas chamber, teknik dikenal dengan descending. Ketika fase geraknya diletakkan di bawah maka disebut ascending (Bansal 2003).

Kromatografi kertas hampir sama dengan kromatografi lapis tipis. Kromatografi kertas memisahkan larutan organic air dan larutan anorganik atau komponen polar yang tinggi seperti asam amino dan gula. Kertas yang digunakan mengandung air yang merupakan fase diam. Fase gerak umumnya adalah fase pelarut organik polar dan air (campuran pelarut yang mengandung air sebagai komponen). Fase diam kromatografi kertas bersifat cair (air) sedangkan fase geraknya juga cairan (pelarut organic dan air). Campuran sampel menjalani partisi atau distribusi di antara dua fase cairan. Sampel akan terpisah dengan nilai koefesien partisi yang berbeda. Kromatografi kertas merupakan salah satu contoh kromatografi partisi. Ketika fase gerak diiletakkan di atas chamber, teknik dikenal dengan descending. Ketika fase geraknya diletakkan di bawah maka disebut ascending. Jika hasil kromatografi kertas kurang berwarna, ada dua metode umum yang digunakan untuk mendeteksi lokasi spot, yaitu menggunakan sinar UV dan reagen pewarna. Sinar UV digunakan ketika komponen mengandung zat fluoresens (berpendar). Kation seperti Co, Ni, Zn, dan Mn menggunakan reagen pewarna difenil karbazid sehingga menghasilkan warna masing-masing adalah ungu, merah, pink, da pink pucat. Reagen pewarna tersebut disemprotkan pada kertas dan hasilnya yang terlihat dilingkari oleh pensil (Krupadanam et al 2001). Kromatografi kertas terdapat distribusi antara air (diadsorbsi oleh kertas saring sekitar 20 %) dan pelarut bergerak (Bansal 2003).

ISOLASI KAFEIN DARI LIMBAH TEH HITAM CTC JENIS POWDERY SECARA EKSTRAKSI

2010
06.19
Kafein adalah salah satu jenis alkaloid yang banyak terdapat di daun teh
(Camellia sinensis), biji kopi (Coffea arabica), dan biji coklat (Theobroma
cacao). Kafein memiliki efek farmakologis yang bermanfaat secara klinis sebagai
bahan obat untuk gangguan limpa, jantung dan saraf pusat. Kafein juga sering
ditambahkan dalam jumlah tertentu ke dalam minuman suplemen.
Pada proses pengolahan teh hitam CTC, dari hasil pensortiran terhadap
ukuran partikel-partikelnya, diperoleh sejumlah off grade dan limbah teh seperti
jenis Powdery dan Dust yang jumlahnya mencapai 2-3 % dari produksi teh.
Limbah ini mempunyai bahan penyusun yang sama dengan teh hitam. Indonesia
merupakan negara penghasil teh terbesar ketiga dengan angka produksi sebesar
20.351 ton pada tahun 2006 dan produktivitas sebesar 593 Kg/Ha diperkirakan
mampu memenuhi kebutuhan kafein dunia yang nilainya mencapai 14.550 Ton.
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan rendemen kafein terbaik dari
limbah teh hitam CTC jenis powdery dengan cara ekstraksi menggunakan pelarut
pada berbagai parameter fisik (waktu ekstraksi) dan parameter kimia (rasio dan
jenis pelarut).
Isolasi kafein dari limbah teh dilakukan melalui proses ekstraksi bertahap
menggunakan air dan pelarut organik. Pada penelitian tahap I, ekstraksi limbah
teh dilakukan menggunakan air dengan rasio bahan dan air 1:20 (b/v) pada
berbagai waktu (1, 2, dan 3 jam), kemudian kafein pada filtrat limbah teh ini
dipisahkan menggunakan diklorometan pada perbandingan 1:1, 1:2, dan 1:3 (v/v).
Rendemen kafein dihitung dengan menentukan kadar Nitrogen secara Mikro
Kjeldahl. Rendemen kafein tertinggi, yaitu sebesar 2,2 % diperoleh pada ekstraksi
2 jam dan perbandingan filtrat limbah teh dengan diklorometan 1:3 (v/v).
Parameter waktu dan perbandingan pelarut ini digunakan untuk penelitian tahap
selanjutnya.
Pada penelitian tahap II, ditentukan jenis pelarut organik terbaik untuk
memisahkan kafein dari filtrat limbah teh. Pelarut organik yang dibandingkan
adalah kloroform dan trikloroetilen. Secara Mikro Kjeldahl diperoleh rendemen
kafein sebesar 1,9 % pada kloroform dan 0,8 % pada trikloroetilen. Rendemen
yang dihasilkan dari kedua pelarut ini lebih kecil dari diklorometan. Hal ini
menunjukkan bahwa diklorometan adalah pelarut organik terbaik untuk
mengekstrak kafein dari filtrat limbah teh. Analisis kafein secara HPLC
menghasilkan nilai rendemen sebesar 1,9 % pada pelarut diklorometan, 1,2 %
pada kloroform, dan 0,8 % pada trikloroetilen. Perhitungan kafein secara HPLC
ini lebih selektif dibandingkan secara Mikro Kjeldahl.
Pada penelitian tahap III, digunakan rasio bahan dan air 1:10 (b/v) dan
1:30 (b/v). Pada analisis kafein secara Mikro Kjeldahl diperoleh rendemen kafein
sebesar 1,1 % dan 1,9 %, sedangkan pada analisis kafein secara HPLC diperoleh
rendemen kafein sebesar 0,9 % dan 1,3 %, kedua konsentrasi ini memberikan
hasil rendemen kafein yang lebih kecil dibandingkan pada rasio 1:20 (b/v).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan secara bertahap, maka
rendemen kafein tertinggi sebesar 1,9 % (HPLC) diperoleh pada ekstraksi dengan
rasio bahan dan air 1:20 (b/v) dan waktu ekstraksi selama 2 jam, serta
menggunakan pelarut organik diklorometan dengan perbandingan filtrat limbah
teh dan diklorometan sebesar 1:3 (v/v). Proses ekstraksi ini menghasilkan nilai
rendemen yang maksimum apabila dibandingkan dengan potensi kafein pada teh
(2-4 %).
oleh: NURLITA SORAYA
F34103124

STUDI HEMATOLOGIS DAN HISTOPATOLOGIS ORGAN PADA TIKUS YANG DIINDUKSI KUININ SEBAGAI UJI POTENSI METABOLIK ANGKAK

2010
06.19
Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi metabolik angkak terhadap
perbaikan hematologi dan organ tikus yang telah diinduksi kuinin. Hewan coba
dibagi secara acak menjadi lima kelompok. Kelompok I hanya diberi akuades,
kelompok II diberi 100 g/kg bb kuinin 14 hari lalu tidak diberi angkak, kelompok
III diberi 100 g/kg bb kuinin 14 hari kemudian 0.04 g/kg bb angkak 14 hari,
kelompok IV diberi 100 g/kg bb kuinin kemudian 0.08 g/kg bb angkak, dan
kelompok V diberi akuades kemudian diberi 0.04 g/kg bb angkak. Analisis
hematologi dilakukan setiap 3 hari sekali. Pada hari ke-29 dilakukan nekropsi
untuk melihat adanya perubahan pada organ hati dan ginjal secara makroskopis dan
mikroskopis.
Pemberian angkak mampu meningkatkan bobot badan hewan coba dengan
hasil uji statistik berbeda nyata (p<0.05). Hasil analisis jumlah trombosit hewan
coba dengan pemberian 0.04 g/kg bb angkak dapat meningkatkan jumlah trombosit
tikus (p<0.05). Pemberian angkak belum memberikan pengaruh yang signifikan
(p>0.05) terhadap nilai eritrosit, hemoglobin, dan hematokrit. Pengamatan
histopatologi hati dan ginjal tikus menunjukkan pemberian 0.04 g/kg bb dan 0.08
g/kg bb angkak membantu perbaikan hati dan ginjal hewan coba yang mengalami
perubahan histopatologi. Hasil uji statistik terhadap perbaikan yang diberikan
angkak adalah beda nyata (p<0.05).

oleh: Hanifah Rahmi